Posted on

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Nilai tukar riyal Arab Saudi (SAR) melemah di perdagangan Senin (11/4/2020) menyusul membaiknya sentimen pelaku pasar, sehingga menguntungkan bagi rupiah.

Berdasarkan data Refinitiv, kurs riyal melemah 0, 18% ke level Rp 3, 953/SAR di pasar spot . Riyal berada di dekat level terendah satu setengah bulan Rp 3. 943/SAR yang disentuh pada 30 April lalu.

Membaiknya sentimen pelaku pasar menjadi kunci bagi penguatan rupiah. Ketika sentimen membaik, maka aset-aset berisiko dengan imbal hasil tinggi akan menjadi sasaran investasi, rupiah pun ketiban rezeki.



Setelah lama dinanti, Inggris akhirnya mengumumkan rencana pelonggaran karantina wilayah ( lockdown ), mengikuti negara-negara Eropa lainnya. Minggu kemarin, Perdana Menteri (PM) Inggris, Boris Johnson, mengumumkan mulai Senin (11/5/2020) mengizinkan warga yang tidak bisa work from home (WFH) kembali masuk kantor, meski disarankan untuk menghindari transportasi publik.

Warga Inggris juga sudah diperkenankan berolahraga secara terbatas mulai hari Rabu. PM Johnson akan memberikan lebih banyak detail pelonggaran lockdown hari ini.

Sementara itu dari Amerika Serikat (AS), beberapa negara bagian di AS berencana melonggarkan lockdown , sehingga roda perekonomian bisa berputar kembali dan pasar tenaga kerja akan membaik.

Dua negara bagian yaitu Michigan dan California misalnya, akan mulai melonggarkan social distancing pada Kamis waktu setempat. Dua daerah tersebut merupakan pusat industri manufaktur di Negeri Sam.

Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia akan mengizinkan masyarakat berusia di bawah 45 tahun untuk kembali beraktivitas di tengah wabah pandemi Covid-19, sehingga roda perekonomian perlahan kembali berputar.

Hal tersebut ditegaskan Datuk Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Doni Monardo dalam konferensi pers yang diselenggarakan melalui live streaming usai rapat terbatas, Senin (11/5/2020).

“Kelompok ini kita berikan ruang aktivitas lebih banyak sehingga potensi terkapar PHK kita kurangi, ” kata Doni.

Doni menggarisbawahi bahwa kelompok tersebut mendapatkan ruang untuk kembali beraktivitas dengan catatan tidak memiliki gejala COVID-19. Apalagi, berbagai data menunjukkan bahwa kelompok ini tidak masuk dalam kelompok rentan.

Berdasarkan catatan Gugus Tugas, masyarakat yang berusia di bawah 45 tahun hanya sekitar 15% yang terpapar COVID-19. Secara fisik, sambung Doni, mereka memang terlihat lebih sehat ketimbang kelompok rentan.

“Kelompok muda di bawah 45 tahun mereka secara fisik sehat, punya mobilitas tinggi, lalu kalau terpapar, mereka belum tentu sakit karena tak ada gejala, ” kata Doni.

Sebelumnya, pada pekan lalu Kementerian Perekonomian mengeluarkan sebuah rentang waktu atau timeline pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi COVID-19 yang menunjukkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maka akan dilonggarkan dalam beberapa fase mulai 1 Juni.

Meski dikatakan masih dalam bentuk kajian, setidaknya hal tersebut memberi harapan roda perekonomian akan segera berputar kembali secara perlahan. Rencana pemerintah tersebut memberikan sentimen positif bagi rupiah sejak pekan selanjutnya, dan berlanjut hingga hari ini.

TIM RISET CNBC  INDONESIA (pap/pap)