Posted on

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Pasar keuangan dalam negeri kompak pada minggu ini, dalam tiga hari perniagaan menjelang libur Hari Raya Idul Fitri. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan penguatan 0, 85%, rupiah lebih dari 1%, tatkala imbal hasil obligasi tenor 10 tahun 13, 3 basis pokok (bps) menjadi 7, 676%.

Sebagai informasi, pergerakan yield obligasi berbanding terbalik dengan harganya. Ketika yield turun, berarti harga sedang naik. Sebaliknya, ketika yield naik, berarti nilai sedang turun.

Dalam Kamis dan Jumat lalu pasar keuangan dalam negeri libur mematok Senin (25/5/2020) besok dalam rancangan Hari Raya Idul Fitri, dan baru bukan kembali pada Selasa (26/5/2020).



Zaman libur tersebut, pasar keuangan ijmal bergerak volatil akibat memburuknya sentimen pelaku pasar menyusul meningkatnya tensi Amerika Serikat (AS) dengan China.

Memanasnya hubungan China dengan AS terjadi akibat Pemimpin Donald Trump mendesak agar China bertanggung jawab atas terjadinya pandemi Covid-19 yang membuat perekonomian AS bahkan global merosot menuju ngarai resesi.

“Kami punya banyak informasi, dan tersebut tidak bagus. Apakah (virus corona) datang dari laboratorium atau sejak kelelawar, pokoknya berasal dari China. Mereka semestinya bisa menghentikan itu dari sumbernya, ” kata Trump dalam wawancara dengan Fox Business Network, seperti dikutip dari Reuters.

Beredar kabar pemerintahan Trump akan membuat Undang-undang (UU) yang mengharuskan China bertanggung jawab atas penyebaran virus corona. Seorang anggota Senat AS mengungkapkan, negeri sedang mematangkan Rancangan Undang-undang Pertanggungjawaban Covid-19 (Covid-19 Accountability Act ).

Memburuknya hubungan kedua negara menyusun pelaku pasar cemas akan jalan terjadinya babak baru perang dagang, bahkan yang terburuk konfrontasi bersenjata alias perang militer.

Selain itu, situasi dalam Hong Kong saat ini kembali memanas setelah Pemerintahan Presiden China, Xi Jinping, berencana memberlakukan UNDANG-UNDANG keamanan baru di wilayah administratifnya tersebut karena tahun lalu berlaku instabilitas akibat aksi demonstrasi semasa berbulan-bulan tahun lalu.

Akibat rencana tersebut ribuan orang kembali berdemonstrasi di Hong Kong, setelah lama “adem ayem” akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Demo bahkan langsung menegang, polisi menambakkan gas air lengah ke pendemo.

Jika tensi di Hong Kong tereskalasi, tentunya akan memperburuk sentimen pelaku pasar sehingga pasar keuangan Indonesia berisiko semakin tertekan. Apalagi, AS kembali ikut campur di masalah Hong Kong.

“AS mengutuk rencana sepihak UU keamanan nasional di Hong Kong. AS mendesak Beijing agar mengkaji ulang proposal yang mengerikan ini dengan memperhatikan tanggung berat dan menghormati otonomi serta tradisi demokrasi Hong Kong, ” cakap Mike Pompeo, Menteri Luar Kampung AS, seperti diberitakan Reuters .

Ikatan AS-China bisa semakin memburuk kelanjutan demo di Hong Kong, sehingga pelaku pasar keuangan patut waspada.