Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Bekas Presiden Indonesia  Susilo Bambang Yudhoyono ikut angkat bicara mengenai kerusuhan yang meluas di Amerika Serikat pasca tewasnya warga kulit hitam George Floyd akibat penganiayaan perseorangan polisi Minneapolis.

Dalam karya yang diunggah ke media baik, SBY mengatakan ada sejumlah ringkasan yang menurut bisa terjadi pasca George Floyd tewas. “Skenario baru, dengan penanganan yang tepat (paduan antara persuasi dan law enforcement) akhirnya aksi-aksi sosial yang mengarah rusuh itu bisa diredakan.

“Dugaan saya, ini skenario terbaik yang diinginkan sebab pemerintahan Trump. Saya kira kebanyakan rakyat Amerika juga menginginkan serupa itu. Skenario ini tak memerlukan konsesi apapun yang mesti diberikan sebab pemerintah, tutur SBY.



Sementara itu, dalam skenario kedua, unjuk rasa makin meluas. Ikatan unsur polisi, National Guard dan elemen tentara federal (misalnya petugas militer) tak mampu menghentikan ataupun meredakannya. Para Gubernur dan Walikota dengan “resources” yang ada tak juga bisa mengatasi keadaan. Pemerintah Federal “terpaksa” melakukan negosiasi secara elemen perlawanan masyarakat dengan pemberian konsesi tertentu.

“Saya memikirkan negosiasinya tentu tak mudah. Konsesi (deal) apa yang bisa dicapai juga tak semudah yang dibayangkan. Apalagi sulit diyakini bahwa Trump punya pikiran dan bersedia untuk melakukan kompromi dengan mereka dengan menuntut keadilan itu, ” tambahan SBY.

Adapun skenario ketiga, adalah kelanjutan dari ringkasan kedua. Ini terjadi jika status politik, sosial dan keamanan kian memburuk. Aksi-aksi kekerasan dan sekaligus perusakan makin meningkat intensitasnya. Presiden Trump dengan alasan untuk menyekat terganggunya keamanan nasional dan perlu kepentingan umum akhirnya melakukan kesibukan yang “tegas dan keras”.

Dalam skenario ketiga ini perbaikan ketertiban dan keamanan (law and order) diambil alih oleh negeri pusat. Presiden selaku “Commander-in-Chief” mengerahkan tentara federal (US Military Forces) untuk menanganinya.

“Sebenarnya dalam sejarah Amerika hal begini tidak lazim, namun tidak berarti tidak akan terjadi. Besar hari ini saya menyimak apa yang disampaikan oleh Presiden Trump bahwa setelah dia menilai para-para gubernur dan walikota umumnya melempem, akan dikerahkan kekuatan militer Amerika untuk mengatasi aksi-aksi protes yang dibarengi kerusuhan dan penjarahan ini, ” ujar SBY.

Menurutnya, di samping 3 skenario itu tentu masih ada ringkasan lainnya. Negara manapun, tuturnya, tetap memiliki rencana kontijensi.

“Jika situasi berubah mutlak dan rencana operasi yang telah disiapkan gagal mencapai tujuan, secara cepat akan disiapkan penggantinya. Hal ini menjadi domain dari lembaga yang tugas pokoknya berkaitan dengan dunia pertahanan, keamanan dalam negeri (internal security) dan keamanan publik, ” ujarnya.

SBY kebuh menyoroti skenario ketiga daripada 2 skenario lainnya. Sebabnya, hal ini membawa risiko dan pengaruh yang tidak kecil, baik secara politik, hukum, sosial maupun kebahagiaan. Selaib ityu, juga berdampak pada citra Amerika Serikat di negeri.

“Sebagai sahabat Amerika, saya sungguh tidak berharap ringkasan ketiga ini yang terjadi. Ataupun opsi untuk menggunakan kekuatan militer (US Army) ini yang mau ditempuh. Kecuali kalau situasinya memang sangat gawat dan keamanan nasional negara itu benar-benar terancam, ” ujarnya,

Dia memperhitungkan ada keinginan dan rencana Presiden Trump untuk mengerahkan kekuatan tentara untuk berhadapan dengan rakyatnya sendiri, meskipun sebelumnya belum pernah berlaku.

“Ingat saya, kala terjadi gelombang protes di simpulan tahun 1960-an hingga awal 1970-an (menentang pelibatan tentara Amerika di Vietnam), tentara reguler juga tak diturunkan. Yang dikerahkan sepertinya merupakan National Guard. Menghadapi gelombang unjuk rasa yang marak di banyak kota waktu itu juga dekat tidak terjadi bentrokan yang membawa korban jiwa, ” ujarnya.

Sebagai mantan Presiden serta seorang Jenderal, SBY khawatir jika Trump salah hitung sehingga perlawanan para pengunjuk rasa itu kian menguat dan membesar. “Yang kritis jika sikap “keras” Trump bertandang dengan sikap pengunjuk rasa dengan makin militan. Benturan yang bertambah besar pasti terjadi, ” ujarnya.

Sementara itu, SBY mengamati ada pihak yang kurang nyaman dengan pernyataan Presiden Trump. Mereka menganggap Trump justru menyulut kemarahan masyarakat yang sedang makan itu. Selanjutnya sebagian pemimpin daerah itu juga tidak setuju jika National Guard serta merta diturunkan ke jalan-jalan. Artinya, Trump serupa menghadapi “pembangkangan” dari sejumlah atasan daerah.

Dia mengisbatkan bahwa sejarah telah menunjukkan banyak pemimpin yang kuat yang kesudahannya jatuh karena mayoritas rakyat mewujudkan jatuh. Sebesar apapun militer dikerahkan untuk menyelamatkan sebuah rezim, jika rakyat sudah bergerak, tumbang serupa mereka.

“Perlawanan baik seperti ini saya ragu bahan terjadi di Amerika. Alasan kami, demokrasi dan sistem politik telah sangat mapan di negara itu. Kedua, yang turun ke jalan-jalan sekarang ini belum tentu menggantikan mayoritas rakyat Amerika, ” ujarnya. (dob/dob)