Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tak jadi merealisasikan rencana penerbitan obligasi subordinasinya yang direncanakannya semenjak dua tahun lalu. Perusahaan hanya melakukan penerbitan setengah dari mutlak nilai target surat utang dengan akan diterbitkan tersebut.

Perusahaan memutuskan untuk menghentikan penawaran umum untuk surat utangnya dengan akan habis masanya pada kamar ini. Penghentian ini dilakukan menetapi kondisi fundamental perusahaan yang masa ini dinilai masih baik dibanding sisi permodalan dan likuiditas.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis perusahaan di Bursa Hasil Indonesia (BEI), sebelumnya perusahaan telah menerbitkan obligasi subordinasi dalam bentuk penawaran umum berkelanjutan (PUB) tahap I senilai Rp 500 miliar pada 2018. Penerbitan ini dilakukan dalam dua tenor, yakni Rp 435 miliar untuk seri I dan Rp 65 miliar untuk seri B.


Sisa nilai penawaran tersebut masih ada sebanyak Rp 500 miliar atau 50% dari target penerbitan sebelumnya senilai Rp 1 triliun.

“Dengan memikirkan posisi permodalan dan likuiditas BCA yang kokoh, tercermin dari situasi Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 23, 8% (sebagian besar ialah tier I capital sebesar 22, 8%), Load to Deposit Ratio (LDR) 80, 5% dan Liquidity Coverage Ratio (LCR) yang menyentuh 276, 3% per Desember 2019, maka BCA memutuskan untuk mengabulkan penghentian penawaran umum berkelanjutan obligasi subordinasi berkelanjutan I Bank Central Asia sebelum berakhirnya periode dua tahun, ” tulis keterbukaan itu, Rabu (17/6/2020).

Mengenai hingga kuartal I-2020 lalu, bank yang terafiliasi dengan grup Djarum ini membukukan kenaikan aset sebesar 6, 08% secara year on year (bank only) atau sebesar 5, 87% yoy (secara konsolidasi). Nilai aset selama kuartal I/2020 adalah sebesar Rp 953, 70 triliun (bank only) dan secara konsolidasi sebesar Rp 972, 93 triliun.

Dari bagian penyaluran kredit, secara individual bank dan konsolidasi BBCA juga meningkat selama kuartal I/2020 yakni per sebesar 1, 6% yoy.

Penyaluran kredit secara tunggal bank selama kuartal I/2020 menyentuh Rp 597, 73 triliun lantaran periode yang sama 2019 yakni Rp 588, 25 triliun, tatkala secara konsolidasi adalah senilai Rp 596, 41 triliun dari sebelumnya Rp 586, 94 triliun.

Hingga kurun triwulan pertama, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross mengalami sedikit kenaikan menjelma 1, 60% dari sebelumnya 1, 47%. Sedangkan NPL net juga meningkat menjadi 0, 59% dari 0, 50% pada periode tarikh lalu.

Adapun, loan to deposit ratio BBCA dalam kuartal pertama tahun ini turun menjadi 77, 64% dari tarikh sebelumnya 81, 03%.

Saksikan video terkait di bawah ini:

(dob/dob)