Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia  – Setelah ditunggu dalam beberapa pekan terakhir, akhir Kejaksaan Gede (Kejagung) mengumumkan tersangka baru di dalam dugaan korupsi dan tindak kejahatan pencucian uang skandal PT Asuransi Jiwasraya.

Pengumuman ini merupakan gebrakan sekaligus babak perdana dalam penyidikan kasus Jiwasraya dengan telah berjalan berbulan-bulan. Tak kepalang tanggung, Kejagung menetapkan seorang pejabat Dominasi Jasa Keuangan (OJK) dan 13 perusahaan yang merupakan manajer investasi sebagai tersangka.

Pejabat OJK tersebut ialah Fakhri Hilmi yang saat ini menjabat sebagai Deputi Komisioner Perlindungan Pasar Modal II OJK. Mengenai 13 tersangka korporasi adalah PT. Dhanawibawa Manajemen Investasi / PT Pan Arcadia Capital (DMI/PAC), PT OSO Manajemen Investasi (OMI), PT Pinnacle Persada Investama (PPI), PT Millenium Danatama Indonesia/PT. Millenium Capital Management (MDI/MCM), dan PT Prospera Asset Management (PAM).


Berikutnya, PT MNC Asset Management (MNCAM), PT Maybank Asset Management (MAM), PT GAP Capital (GAPC), PT Jasa Capital Asset Management (JCAM), PT Pool Advista Asset Management (PAAA), PT Corfina Capital (CC), PT Treasure Fund Investama Indonesia (TFII), dan PT Sinarmas Asset Management (SAM).

Para tersangka ini menyusul 6 orang yang telah duduk di kursi pesakitan terlebih dahulu. Mereka adalah Dirut PT Hanson International Tbk (MYRX) Benny Tjokrosaputro, Komisaris Utama PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat, Penasihat PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto, Mantan Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo, mantan Direktur Istimewa Jiwasraya Hendrisman Rahim, dan bekas Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan.

Besar Pusat Penerangan Hukum Kejagung Keadaan Setiyono mengatakan Fakhri Hilmi & 13 Manajer Investasi yang menjelma tersangka hari ini, disangkakan perkara dugaan korupsi yakni Pasal dua ayat (1) UU 31/1999 juncto (jo) UU 20/2001 jo Urusan 56 KUHP. Adapun pasal subsidair yakni Pasal 3 UU 31/1999 jo UU No 20/2001 jo Pasal 56 KUHP.

Selain itu, 13 manajer investasi tersebut juga dipakai perkara tambahan, yakni dugaan aksi pidana pencucian uang (TPPU). Adapun pasal yang disangkakan adalah Bab 3 UU 8/2010 jo Pencetus 55 Ayat (1) ke-1 KUHP Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP. Sementara pasal subsidair adalah Pasal 4 UU 8/2010 Jo Pasal 55 Ayat (1) pertama KUHP Jo Pasal 65 bagian (1) KUHP.

Melihat banyaknya para tersangka, kronologi kejadian serta pasal-pasal yang disangkakan tercermin bahwa perkara ini merupakan diduga merupakan tindak pidana korupsi berjamaah. Namun, apakah mereka semua terlibat atau tidak bersalah, kita nanti saja!

Saksikan video terkait dalam bawah ini:

(dob/dob)