Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Para ahli meyakini  bahwa pertikaian militer antara pasukan China dan India di wilayah Himalaya yang disengketakan di Kashmir berhasil menjadikan daerah di Asia Selatan ini sebagai  hotspot menyesatkan berbahaya dalam perang dingin anyar antara Beijing dan saingannya di Asia yang disokong Amerika Konsorsium (AS) ini.

Dengan mengerahkan pasukan ke Lembah Galwan di Ladakh, wilayah Kashmir paling utara yang diklaim India, China dinilai secara signifikan memajukan tensi perselisihan yang sudah tersedia sebelumnya antara India dan Pakistan yang memicu konflik lebih lanjut di Asia Selatan.

Hal ini diungkapkan para ahli ini, dalam rubrik Week In Asia, dilansir South China Morning Post, dalam serangkaian wawancara.


Pada Senin (16/6/2020), sebanyak 20 puluh tentara India, tercatat seorang perwira, tewas dalam pertarungan tangan kosong yang ganas pada Lembah Galwan.

Foto: Orang-orang India menginjak-injak patung Presiden Cina Xi Jinping yang terbakar selama protes terhadap China di Ahmedabad, India (AP/Ajit Solanki)

India mengatakan pihak China juga menderita korban, tetapi negeri China belum mengungkapkan jumlah korban yang diklaim India. Bentrokan itu merupakan puncak dari ketegangan kedua negara di kawasan Lembah Galwan, Himalaya. Bagi India kawasan perkara ini masuk di kawasan Ladakh. Sedangkan bagi China kawasan tersebut disebut Aksai Chin, Xinjiang.

Ladakh  adalah satu sejak tiga wilayah yang memang  diistilahkah  secara politik sebagai Kashmir, yakni Jammu, Kashmir, dan Ladakh. Lokasinya di utara sub-benua India.

Kenapa konflik dengan China kemudian memunculkan Pakistan?

Tom Hussain, jurnalis dengan berbasis di Islamabad, Pakistan, serta juga dikenal sebagai analis kebijakan Pakistan, dalam tulisannya di South China Morning Post, mengungkapkan  daya konflik yang bisa meletus kurun India dan Pakistan.

Sejak India diduga melancarkan serangan udara ke kamp pelatihan gerilyawan di Pakistan pada Februari 2019, dan secara terpisah mencaplok bagian dari Kashmir yang diklaim  pada Agustus morat-marit, hubungan musuh abadi di Asia Selatan ini telah menjadi dengan paling tegang sejak terakhir mereka berperang pada  1999.

Sejarah mencatat, terjadi Perang Kargil  atau disebut Konflik Kargil. Pertentangan bersenjata antara India dan Pakistan ini terjadi pada Mei serta Juli 1999 di Distrik Kargil, Kashmir.

Pemicu perang ini ialah masuknya pasukan Pakistan dan militan Kashmir ke provinsi India di Line of Control (LOC). LOC  adalah perbatasan yang ditetapkan secara de facto antara kedua negara.

Foto: Tentara India melindungi di jalan raya Srinagar-Ladakh dalam Gagangeer, timur laut Srinagar, India (AP/Mukhtar Khan)
An Indian army soldier guards atop one of the vehicles as rencana army convoy moves on the Srinagar- Ladakh highway at Gagangeer, north-east of Srinagar, India, Wednesday, June 17, 2020. Indian security forces said neither side fired any shots in the clash in the Ladakh region late Monday that was the first deadly confrontation on the disputed border between India and China since 1975. China said Wednesday that it is seeking a peaceful resolution to its Himalayan border dispute with India following the death of 20 Indian soldiers in the most violent confrontation in decades. (AP Photo/Mukhtar Khan)

India dan Pakistan punya ikatan sejarah panjang. India dan Pakistan pernah dijajah Inggris selama puluhan tahun. Saat  India merdeka pada 15 Agustus 1947, Inggris morat-marit melepaskan kendalinya atas India, lalu  India terpecah menjadi mayoritas Hindu dan Pakistan dengan mayoritas Islam dan menjadi Republik Islam pada 23 Maret 1956.

Dahulu Pakistan masih Pakistan Timur dan Pakistan Barat, lalu Pakistan Timur memisahkan diri menjadi  Bangladesh pada 16 Desember 1971.

Akibat konflik yang menegang Februari 2019, kedua belah pihak memanggil duta besar mereka masing-masing dan menangguhkan komunikasi bilateral ke-2 negara ini sejak tahun berarakan. Bahkan pekan lalu, keduanya mengusir setengah dari staf negara masing-masing dari kedutaan mereka di Islamabad dan New Delhi melalui perbedaan spionase tersebut.

Dengan masuknya China ke perebutan wilayah Kashmir untuk pertama kalinya sejak Tiongkok mengalahkan India dalam perang perbatasan tahun  1962, para lihai percaya keributan antara China, India, Pakistan hanya masalah waktu.

“Saya pikir konflik [tiga negara] kemungkinan nyata. Untuk China, tak ada insentif memulai perang dengan India atas Kashmir. Tapi ada masalah yang lebih besar untuk dihadapi dan perkara wilayah Line of Actual Control [LAC] atau Strip Kontrol Aktual kemungkinan menjadi pemicunya, ” kata Harsh V. Pant, profesor hubungan internasional di King’s College London, dilancir South China Morning Post.

LAC adalah garis perbatasan sengketa yang tidak ditentukan sepanjang 4. 000 km antara China dan India, membentang dari Ladakh di barat ke Bhutan di wilayah timur.

Sementara itu, perbatasan India yang dipersengketakan dengan Pakistan di Kashmir dikenal sebagai The Line of Control (LOC), dibatasi oleh PBB pada tahun 1949.

LOC mengacu pada garis kendali militer antara periode Jammu dan Kashmir yang dikendalikan oleh India dan Pakistan, coreng yang bukan batas internasional dengan diakui secara hukum, tapi menjadi  perbatasan secara  de facto . Sebelumnya dikenal sebagai Gars Gencatan Senjata.

LOC dan LAC dipisahkan oleh wilayah Pass Karakoram, berkecukupan tepat di barat Lembah Galwan. Di sisi lain, ada retakan yang terletak Gletser Siachen, bercak yang tidak ditentukan di sebelah paling utara LOC. Lokasi tersebut dikenal menjadi medan pertempuran sempurna di dunia setelah terjadi  perebutan  oleh India pada tahun 1984 dan memicu 20 tahun pertempuran dengan Pakistan.

“Kita tidak bisa menceraikan krisis Ladakh dari perselisihan Kashmir. Selama LAC tegang, dan kemungkinan akan sering di  masa mendatang, LOC  berpotensi  menjadi lebih panas, ” kata Michael Kugelman, rekan senior Asia Selatan di Wilson Center, lembaga think tank yang berbasis di Washington.

Namun, menurut  Rabia Akhtar, Direktur Pusat Penelitian Ketenangan, Strategi dan Kebijakan di Universitas Lahore, belum ada tanda-tanda kerja sama militer oleh China dan Pakistan versus  India di Kashmir.

“Secara teori, India kira-kira telah mempersiapkan perang dua front , tetapi tak ada bukti yang menunjukkan bahwa Pakistan dan China sedang mempersiapkan untuk itu atau bahwa interoperabilitas [kapabilitas] ada atau direncanakan untuk melawan perang semacam itu dengan India, ” kata Akhtar, yang juga merupakan anggota balai penasihat Perdana Menteri Pakistan Imran Khan untuk urusan luar jati.

Saat berpidato dalam konferensi video pekan lalu, pensiunan Letnan Jenderal Athar Abbas, bekas Kepala Juru Bicara militer, mengutarakan Pakistan tidak berminat untuk bercampur dengan China untuk berperang dua- front melawan India.

Alasannya, pertentangan antara tiga negara senjata nuklir ini tidak akan terbatas dalam tiga negara ini, berpotensi merata, dan  kemungkinan akan meningkat menjelma perang yang lebih luas membawabawa AS dan kekuatan lainnya.

The Stockholm International Peace Research Institute (Sipri) atau Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm, dalam buku tahunannya yang diterbitkan dalam 15 Juni, mengatakan China, India dan Pakistan terus memodernisasi persenjataan strategis mereka guna mengantisipasi risiko yang timbul dari saingan itu.

Saksikan video terkait di lembah ini:

(tas/tas)