Posted on

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Pasar keuangan Indonesia balik bervariasi pada perdagangan Rabu (15/7/2020), hubungan Amerika Serikat (AS) serta China yang berisiko memanas menyampaikan sentimen negatif di pasar. Isu resesi juga masih membebani hati pelaku pasar.

China hari ini akan merilis bukti pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 & akan memberikan gambaran sejauh barang apa kebangkitan ekonomi Negeri Tiongkok pascadihantam pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Data tersebut akan mempengaruhi pergerakan pasar hari ini, Kamis (16/7/2020), dan akan dibahas pada kaca 3.


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin melemah tipis 0, 07% ke 5. 075, 798. Real di awal perdagangan sempat menguat 0, 74%.

Investor asing kembali melakukan aksi berniaga bersih ( net sell ) Rp 603, 17 miliar di pasar reguler. Bila digabungkan dengan pasar non-reguler, total net sell sebesar Rp 651, 92 miliar. Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia mencapai Rp 7, 21 triliun.

Saham yang menyesatkan banyak dilego asing hari tersebut adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan jual suci sebesar Rp 56 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang mencatatkan net sell sebesar Rp 239 miliar.

Sementara itu saham yang paling banyak dikoleksi asing keadaan ini adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan beli bersih sebesar Rp 20 miliar dan PT Aces Hardware Indonesia Tbk (ACES) yang mengagendakan net buy sebesar Rp 13 miliar.

Dari rekan obligasi, harga Surat Utang Negara (SUN) menguat, yang terlihat dibanding penurunan imbal hasil atau yield .

Untuk diketahui, pergerakan yield berbanding berlawanan dengan harganya, saat harga terbang yield bergerak turun, dan sebaliknya. Yield SUN tenor 10 tahun mendarat 2, 3 basis poin (bps) menjadi 7, 066%.

Sementara itu rupiah melemah intelek kemarin, bahkan sempat menyentuh Rp 14. 600/US$. Untuk pertama kalinya rupiah menyentuh tersebut sejak 29 Mei lalu.

Rupiah mengakhiri perdagangan kemarin di level Rp 14. 575/US$, melemah 1, 39% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Bank Indonesia (BI) yang akan mengumumkan kebijakan moneter hari ini menyusun rupiah tertekan. Kenapa itu mampu terjadi akan dibahas pada halaman 4.

Risiko memanasnya hubungan AS-China berlaku setelah Presiden AS Donald Trump, pada Selasa waktu setempat (Rabu dini hari waktu Indonesia) mengesahkan undang-undang yang memberikan sanksi ke China karena melakukan intervensi independensi Hong Kong.

Trump juga menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) yang menghentikan perlakukan khusus dengan selama ini diterima Hong Kong.

“Hong Kong kini akan diperlakukan sama seperti China. Tidak ada keistimewaan, tidak ada perlakukan ekonomi khusus, dan tak ada transfer teknologi. Sebagai tambahan, seperti yang ada tahu, kita akan mengenakan bea importasi (ke Hong Kong) dan sudah memakai bea importasi yang besar ke China” kata Trump, sebagaimana dilansir CNBC International.

Memanasnya hubungan AS-China adalah kabar buruk di pusat situasi ekonomi yang sangat membatalkan akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19).
Sebelumnya Presiden Trump juga mengatakan saat ini ia tidak berfokus pada peluang terjadinya kesepakatan dagang fase II dengan China. Trump menambahkan hubungan dengan China sudah “sangat rusak” akibat pandemi Covid-19.