Posted on

Jakarta, CNBC  Indonesia – Saham emiten farmasi pusat mendapat sentimen positif vaksin Covid-19 di Tanah Air. Setelah dua hari terakhir saham duo emiten BUMN farmasi ‘mengamuk’, pada perniagaan Rabu kemarin  (22/7/2020) saham PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) sentuh batas auto reject atas (ARA).

Dua emiten farmasi BUMN tersebut merupakan anak usaha BUMN farmasi PT Bio Farma  (Persero). Data perdagangan Bursa Pengaruh Indonesia (BEI) mencatat, pada memukul 10. 00 WIB, Rabu pagi, ‘duet maut’ saham farmasi pelah lidah merah ini sama menyentuh pemisah atas maksimal kenaikan harian atau auto reject atas sebesar 25% had penutupan.

Saham INAF menguat 24, 92% di golongan Rp 1880/saham dengan nilai transaksi Rp 31, 31 miliar dan volume perdagangan 17, 27 juta saham


Sementara saham KAEF juga melesat 24, 78% di level Rp 2. 140/saham dengan nilai transaksi 149, 29 miliar dan volume perdagangan 72, 27 juta saham.

Batas auto reject untuk range harga saham Rp 200-5. 000 adalah 25% di dalam sehari. Sementara level harga Rp 50-Rp 200 akan dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan sejumlah 35%.

Selain INAF  dan KAEF, sejumlah saham farmasi lainnya juga melesat. Data BEI  mencatat, setidaknya terdapat 10 emiten farmasi (sub-sektor farmasi di daerah industri barang konsumer).  

Berikut jawaranya, berdasarkan petunjuk penutupan Rabu kemarin (22/7).

Jawara Saham Emiten Farmasi

Saham

1H (%)

1M(%)

1B (%)

INAF Rp satu. 880

24, 92

69, 37

88

KAEF Rp 2. 140

24, 78

68, 50

87, 72

PEHA Rp 1. 525

25

34, 36

33, 77

PYFA Rp 1. 015

23, 03

53, 79

66, 39

KLBF Rp satu. 575

3, 62

4, 30

7, 88

DVLA Rp 2. 260

3, 20

dua, 26

2, 73

MERK Rp 3. 940

2, 34

12, 57

43, 27

SIDO Rp 1. 245

0, 40

2, 05

2, 47

Data per 22 Juli 2020

Mengacu data tersebut, INAF  mencantumkan penguatan paling tinggi secara harian dan paling tinggi dalam 5 hari perdagangan terakhir. Begitu juga dalam sebulan terakhir, INAF  masih tercatat paling kencang, disusul  PT Pyridam Farma Tbk  (PYFA). Informasi masuknya investor baru yakni Rejuve  Global Investment Pte  Ltd asal Singapura ke PYFA  menjadi sentimen positif.

Pada Senin pekan ini, memang terjadi aktivitas borong saham PYFA  di rekan negosiasi yang dilakukan satu wakil ( crossing saham).

Beberapa nama perusahaan farmasi lainnya tak dimasukkan karena tak likuid dan nilai tidak bergerak seperti PT Waktu Scan Pasific Tbk (TSPC), dan Merk Sharp Dohme Pharma  Tbk  (SCPI).  

Sementara  PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA), PT Merck Indonesia Tbk (MERK), PT Kalbe  Farma  Tbk  (KLBF), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido  Pegari Tbk  (SIDO), dan cucu jalan Bio Farma  yakni PT Phapros  Tbk  (PEHA) masuk hitungan.

Saham-saham farmasi memang ditutup melesat seiring dengan kabar vaksin Covid-19 yang sudah sampai di Indonesia. Bahkan kenaikan ini sendiri sudah terjadi sejak Senin masa kabar sampainya vaksin Sinovac pada Indonesia menjadi viral dengan munculnya foto tumpukan kotak vaksin bertuliskan SARS-CoV-2 Vaccine (Vero cell) Inactived dengan ukuran 0, 5 ml. Sementara foto lainnya ada gubahan Diplomatic Goods penanganan Covid-19 Bio Farma, Bandung.

Perusahaan induk (holding) BUMN Farmasi PT Bio Farma, induk KAEF & INAF, menyatakan siap untuk menyelenggarakan uji klinis tahap 3 untuk vaksin Covid-19.

Bio Farma akan menggunakan 2. 400 vaksin Sinovac dari China yang tiba 19 Juli 2020, untuk tahap awal uji klinis periode 3 yang akan mulai dikerjakan pada Agustus.

Di dalam siaran pers yang disampaikan Bio Farma, Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan, uji klinis tahap 3 vaksin Covid-19, dijadwalkan akan berjalan selama enam kamar, sehingga ditargetkan akan selesai di bulan Januari 2021 mendatang.

“Apabila uji klinis vaksin Covid-19 tahap 3 lancar, maka Bio Farma akan memproduksinya pada Q1 2021 mendatang, dan awak sudah mempersiapkan fasilitas produksinya di Bio Farma, dengan kapasitas produksi maksimal di 250 juta dosis”, ujar Honesti.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)