Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia –  Rupiah kembali mencatat penguatan tipis 0, 07% melawan dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 14. 470/US$ Rabu kemarin. Meski seiprit , penguatan tersebut cukup mendatangkan rupiah membukukan penguatan 7 hari beruntun.

Reli panjang rupiah sepertinya masih belum hendak berakhir, sebab sentimen pelaku pasar sedang bagus yang tercermin sejak menguatnya bursa saham Asia pagi ini, Kamis (30/7/2020).

Kala sentimen pelaku pasar padahal bagus, aliran modal akan hadir ke negara emerging market seperti Nusantara yang memberikan imbal hasil lebih tinggi, dampaknya rupiah berpeluang memperpanjang reli menjadi 8 hari beruntun.


Berarti, kebijakan tersebut akan ditahan cukup lama, mengingat perekonomian AS masih jauh dari kata bangkit. Bank sentral AS, The Fed, yang dipimpin Chairman Jerome Powell, tahu perekonomian sudah mulai pulih, tetapi masih sangat jauh dari lapisan sebelum virus corona menyerang dunia.

Pengumuman kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menjadi pemicu membaiknya hati pelaku pasar. Sesuai prediksi banyak analis, Ketua The Fed, Jerome Powell mempertahankan suku bunga cetakan 0 – 0, 25%, serta kebijakan pembelian aset ( quantitative easing /QE) selama diperlukan guna membangkitkan perekonomian AS.

Secara teknikal, belum ada perubahan mengingat rupiah akhirnya ini menguat tipis-tipis saja. Gaya penutupan rupiah pada perdagangan Senin (27/7/2020) tidak jauh dari status pembukaan perdagangan, serta pergerakan naik turun hari ini secara teknikal membentuk pola Doji jika dipandang menggunakan grafik Candlestick.

Suatu harga disebutkan membentuk pola Doji ketika golongan pembukaan dan penutupan perdagangan setara atau nyaris sama persis, sesudah sebelumnya mengalami pergerakan naik serta turun dari level pembukaan tersebut.

Secara psikologis, cermin Doji menunjukkan pelaku pasar masih ragu-ragu menentukan arah pasar apakah akan menguat atau melemah. Pergerakan rupiah Selasa kemarin yang sempat melemah dan berakhir menguat tipis menjadi indikasi keraguan pasar.

Munculnya Doji menjadi isyarat suatu instrument akan memasuki fase konsolidasi.

Dalam kejadian rupiah atau yang disimbolkan dengan USD/IDR, fase konsolidasi kemungkinan bakal berada di rentang Rp 14. 325/US$ sampai US$ 14. 730/US$. Artinya, rupiah kecenderungannya akan bekerja bolak balik di antara kelas tersebut di pekan ini, makin ada kemungkinan sampai pekan depan.

Grafik: Rupiah (USD/IDR) Harian
Foto: Refinitiv

Indikator stochastic bekerja turun tetapi masih belum menyelap wilayah jenuh jual ( oversold ).

Stochastic merupakan leading indicator , atau indikator dengan mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di kolong 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah. Artinya ketika USD/IDR mencapai oversold, rupiah punya peluang berisiko berbalik melemah.

Artinya, jika belum mencapai oversold , rupiah punya peluang untuk menguat di pekan ini, menuju batas bawah fase konsolidasi Rp 14. 325/US$.

Resisten terdekat berada di kisaran US$ 14. 510/US$, jika ditembus rupiah berisiko melemah ke Rp 14. 600/US$.

Arah pergerakan selanjutnya akan ditentukan apakah rupiah dapat menembus batas bawah fase konsolidasi sehingga akan menguat lebih tinggi, atau sebaliknya batas atas Rp 14. 730/US$ yang akan dilewati sehingga risiko pelemahan semakin tumbuh.

Batas atas itu juga merupakan Fibonnaci Retracement 61, 8%. Fibonnaci Retracement tersebut ditarik dari level bawah 24 Januari (Rp 13. 565/US$) lalu, tenggat ke posisi tertinggi intraday 23 Maret (Rp 16. 620/US$).

Ke depannya, selama tidak menyerbu ke atas Fib. Retracement 61, 8% tersebut rupiah masih berpeluang menguat.

TIM RISET CNBC  NUSANTARA

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)