Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah berencana menghapus syarat rapid test dan Swab di transportasi umum, termasuk motor. Anggota Satgas Covid-19 PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Erlina Burhan buka suara mengenai rencana itu.

Dia mengaku akur jika syarat tersebut dihapuskan. Artinya, orang yang akan naik pesawat, kereta api, hingga kapal bahar, tak perlu lagi diwajibkan menunjukkan hasil rapid test atau Swab.

“Pertama, kan rapid test untuk screenin g. Padahal kalau rapid test hasilnya reaktif, itu telah ada, jadi sudah terlambat screening-nya. Apalagi kalau rapid test yang reaktif adalah IgG ( jenis antibodi yang paling penuh ditemukan di dalam darah & cairan tubuh lainnya) , nah itu kan bisa jadi pasien sudah sembuh sebenarnya.


“Jadi nggak tepatlah memberlakukan rapid test untuk kunjungan, ” kata Erlina Burhan kepada CNBC Indonesia, Senin (10/8/20).

Selain itu, mekanisme yang berlaku selama ini ternyata pula tidak menjamin bahwa penumpang pemindahan umum tidak terpapar Covid-19. Termasuk untuk metode Swab PCR.

“Kan berlaku sekian keadaan, misalnya hari ini Swab, hasilnya kan bisa-bisa minggu depan. Antara hari ini diambil Swab secara Minggu depan kalau terpapar sedang kan kita nggak tahu? ” ucapnya.

Belum lagi, kebijakan ini juga pada keputusannya dirasa memberatkan lantaran ongkos ulangan kesehatan yang masih relatif garib.

“Swab itu membentuk mahal sekali, jadi sangat mengutamakan dan itu nggak menjamin, ” tutur perempuan yang juga menjabat sebagai juru bicara tim dokter pasien Covid-19 RSUP Persahabatan ini.

Kendati begitu, dia membantah anggapan bahwa kebijakan dengan diterapkan selama ini sia-sia. Menurutnya, setiap kebijakan pasti akan dievaluasi dan hasil evaluasi saat ini cenderung lebih ke arah penghapusan syarat rapid test atau Swab di perjalanan.

“Ya nggak sia-sia. Pada masa tersebut, itu memang diberlakukan. Tapi kan semua dianalisis lagi, ” bebernya.

Menurutnya, rencana penghapusan rapid test ataupun Swab sebagai syarat berpergian memang wajar saja. Kebijakan itu valid sejak pemerintahan melakukan pembatasan pergerakan orang, namun kini kelonggaran-kelonggaran tiba diterapkan.

“Sekarang tersebut kan kalau menurut saya kedudukan berkembang terus, kita update tetap. Ilmu juga update ya, jadi memang sangat dinamis lah. Transformasi itu kan biasa saja, ” urainya.

Ia juga menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan. Menurutnya, pemeriksaan di lokasi keberangkatan seperti terminal atau bandara lestari harus dilakukan.

“Kalau menurut saya solusinya di tempat keberangkatan diperiksa suhu, ditanyakan tersedia batuk apa tidak, ditanyakan isyarat, ” ujarnya.

Selain itu, peran operator juga penting dalam mengawasi para penumpangnya. Peristiwa pakai masker dan jaga jarak, menurutnya tak boleh diabaikan

“Dipastikan protokol kesehatan dijalankan, artinya pakai masker, jaga langkah, cuci tangan dan lainnya. Diminta kepada penumpang juga tidak membuka masker, ” tandas Erlina Burhan.

Juru bicara tim dokter pasien covid-19 RSUP Persahabatan ini juga menaruh perhatian dalam tempat tunggu penumpang. Dia mengingatkan agar interaksi antar manusia diminimalisir.

“Bila perlu di tempat menunggu itu nggak jual makanan. Karena orang kalau ada jual makanan cenderung buka kedok, duduk berhadap-hadapan, ngobrol, nggak betul juga ya. Justru di wadah menunggu itu diputar tentang video edukasi, bagaimana cara membuka serta memakai masker yang baik. Kenapa harus pakai masker, kenapa kudu cuci tangan dan sebagainya, ” bebernya.

Kabar perkara penghapusan tes swab dan rapid test disampaikan oleh Juru Kata dan Ketua Tim Pakar Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito yang membenarkan adanya rencana tersebut.
“Iya, sedang dibicarakan detail pelaksanaannya, ” kata Wiku ketika dikonfirmasi CNBC Indonesia pekan lalu.

[Gambas:Video CNBC]
(sef/sef)