Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Bertambah dari 135. 000 orang di Amerika Serikat (AS) mengajukan klaim untuk mendapatkan tunjangan pengangguran pada pekan yang berakhir 15 Agustus.

Angka kenaikan yang lebih tinggi dari ekspektasi itu membuat total orang yang telah mengajukan klaim pengangguran di AS menjadi sebanyak lebih dari satu, 1 juta orang sampai kurun tersebut.

Tingginya angka pengangguran di AS disebabkan oleh menyebarnya wabah virus corona (Covid-19). Di mana negara yang dipimpin Presiden Donald Trump itu menjadi negara yang mempunyai kasus corona terbanyak di negeri.

Dengan total hampir 5, 8 juta kasus di AS per Jumat ini, angka pengangguran di negara itu sudah meningkat pesat tiap minggunya, & jauh melampaui kenaikan mingguan masa krisis keuangan global terjadi dalam 2008-2009.


“Dan aplikasi baru di bawah program pandemi khusus untuk mereka yang biasanya tidak memenuhi kondisi untuk mendapatkan manfaat juga menyusun, meningkat lebih dari 53. 000, ” menurut laporan Departemen Tenaga Kerja, sebagaimana dilaporkan AFP.

Untuk menekan jumlah pengangguran dan dampak buruk wabah di ekonomi AS, pemerintahan Trump masa ini sedang mengupayakan untuk melelehkan bantuan pendanaan tambahan. Sayangnya, persetujuan untuk merilis bantuan darurat tersebut masih belum disepakati di Gedung Putih.

Dalam suatu wawancara dengan Fox Business Network pada Kamis, Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow menyebut tersedia kebuntuan dalam pembicaraan soal agenda pendanaan tambahan CARES Act tersebut.

Pendanaan CARES Act bertujuan untuk menambah US$ 600 dalam pembayaran mingguan kepada pelaku yang menganggur sambil menciptakan Agenda Perlindungan Gaji (PPP) untuk menganjurkan pinjaman dan hibah kepada kongsi yang kesulitan di tengah bermacam-macam tekanan bisnis yang dihadapi, tercatat penurunan pendapatan.

Di sisi lain, saat paket tumpuan tambahan belum berhasil diloloskan, Trump pada awal bulan ini telah menandatangani perintah eksekutif untuk memeriksa mengatasi kesenjangan tersebut. Perintah manajer itu termasuk untuk memberikan sandaran tambahan sebesar US$ 400 pada pekerja yang di-PHK, tetapi hingga kini baru segelintir negara arah yang menyetujui langkah itu.

[Gambas:Video CNBC]
(sef/sef)