Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) menjual kepemilikan atas Lippo Mall Puri yang saat ini dikelola oleh anak usahanya PT Sendiri Cipta Gemilang (MCG) kepada penjual yang juga merupakan pihak dengan terafiliasi dengannya yakni PT Keraton Bintang Terang (PBT).

Penjualan dilakukan melalui perusahaan REIT (Real Estate Investment Trust, ataupun Dana Investasi Real Estate/DIRE) bernama Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT) yang berbadan hukum Singapura.

Berdasarkan data keterbukaan informasi di Bursa Efek Nusantara (BEI), PBT adalah anak perusahaan yang seluruh sahamnya dimiliki secara tidak langsung oleh LMIRT, dibangun berdasarkan dan tunduk kepada adat negara Indonesia, berkedudukan di Gedung Berita Satu Plaza Lantai 8, Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 35-36, RT00/RW00, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan, Indonesia.


Sementara itu, MCG adalah bujang perusahaan yang seluruh sahamnya dimiliki secara tidak langsung oleh Lippo Karawaci, didirikan berdasarkan dan bertekuk lutut kepada hukum negara Indonesia, berada di PX Pavilion Lantai 3, Jl. Puri Indah Boulevard Arah U1, Puri Indah, RT002/RW002, Kembangan Selatan, Kembangan, Jakarta Barat, Indonesia.

CEO Lippo Karawaci John Riady dalam keterangan pada CNBC Indonesia sempat mengatakan divestasi aset kepada pihak afiliasi merupakan salah satu langkah perusahaan di melakukan recycling asset miliknya buat menghasilkan modal baru guna menjunjung ekspansi perusahaan.

“Kita kan jual ke kita sendiri, kita ini punya perusahaan REIT di Sngapura. Jadi memang model kita apakah membeli mall atau bangun mall, setelah kinerja cantik kita jual ke Singapura, dananya diterima kita bangun lagi mall baru, ini strategi recycling kita, ” kata John kepada CNBC Indonesia, dalam sebuah kesempatan.

Meski dijual kepada bagian afiliasi, MCG nantinya akan pasti menjadi pengelola properti tersebut sesudah ditandatanganinya amandemen perjanjian pengelolaan kekayaan.

John semula mengharapkan Lippo Karawaci bahan mengantongi dana senilai Rp 3, 70 triliun dari penjualan ini dan penjualan ini sebetulnya ditargetkan akan dirampungkan pada 2019 ini setelah PBT memenuhi persyaratan haluan yang telah disepakati.

Namun berdasarkan informasi di BEI, para pihak sepakat untuk mengakhiri transaksi dalam waktu paling lemah pada 31 Maret 2021 ataupun tanggal lain yang disetujui dengan tertulis oleh para pihak.

“Nilai transaksi pengalihan sebesar total Rp 3, 50 triliun, belum termasuk PPN. Harga berniaga beli wajib dibayarkan oleh PBT kepada MCG dengan cara memindahkan ke rekening yang ditunjuk MCG pada tanggal penandatanganan akta jual beli di hadapan Pejabat Pelaksana Akta Tanah oleh MCG & PBT atas jual beli kekayaan, ” tulis manajemen LPKR.

Sebagai latar belakang, transaksi ini sudah diteken pada tarikh lalu. Pada 11 Maret 2019, MCG dan PBT menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat terkait secara Rencana Pengalihan Properti.

“Rencana transaksi dilaksanakan merupakan bagian dari strategi asset-light yang dijalankan perseroan dan dilakukan untuk meningkatkan likuiditas perseroan dan hasil dengan akan diterima oleh perseroan dibanding pelaksanaan rencana transaksi akan digunakan antara lain untuk membiayai kegiatan operasional perseroan, ” tulis tadbir LPKR.

[Gambas:Video CNBC]
(wia/wia)