Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia -Kala Itu tahun 1991. Udara California, negara di pesisir barat Amerika Serikat itu sedangkan terik-teriknya, Juni, musim panas baru juga tiba. Freddy Widjaja, padahal jalan-jalan bersama mendiang ayah, Eka Tjipta, konglomerat pendiri Grup Sinar Mas.


Pada perjalanan, di mobil, Eka Tjipta rupanya kepanasanan, mafhum, mobil Toyota Tercel, yang dibeli Freddy seharga US$ 3. 500 belum dipasang air conditioner (AC). Eka Tjipta jelas kegerahan, apalagi saat itu dia memakai jas tanpa dasi. Waktu itu, Eka hadir ke AS selama 10 hari sekali lalu menghadiri wisuda Freddy di California State University.



“Ini mobil gak ada AC nih, ” kata tutur Freddy, menirukan ucapan sang ayah.


“Mana ada AC-nya mobil 3. 000 dollar, ” timpal dia.




Sepanjang kunjungan, sang ayah lebih banyak tenang saja. Namun sesampainya di vila, Eka memerintahkan Freddy untuk mencantumkan AC di mobilnya. Masalah beres.


Ia mengenang, sosok ayahandanya bukan yang kerap memanjakan anak-anaknya dengan uang.


Teguh dalam pembentukan, ia juga termasuk orang gelap yang peduli dalam pendidikan anak-anaknya, sebab tak mau bernasib sebanding seperti dirinya yang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar saja. Mendiang Eka juga mengajarkan anak-anaknya biar tidak boros dan hidup ala kadarnya.


“Ayah saya termasuk pelit, saya punya mobil di AS pertama kali beta beli pakai uang jajan saya, murah, tahun 1987 saya beli 200 dolar Honda Civic, tapi 200 meter sekali mati pesawat, ” tutur dia.


Namun, bekal ini dengan mengajari Freddy agar bisa tumbuh mandiri. Ia juga menuturkan, sejak kecil Eka Tjipta adalah karakter yang terkenal kerja keras. Pendiri Grup Sinar Mas ini berpunya kerja sejak pagi pukul 5 pagi dan selesai pulang jawatan pukul 22. 00. Freddy temasuk anak yang dekat dengan abu.


“Dia bangun tidur jam 5, pulang makan siang, kalau lagi gak enternait orang balik kantor lagi tanda 2, balik lagi jam 10 malam, saya bukain pintu sendi saya di Ketapang, jam 11 malam, tin, oh itu mobilnya saya lari, bukain pintu, ” cerita Freddy kepada CNBC Nusantara.


Pada asing kesempatan, Eka juga senang mengajaknya berolahraga jalan santai di Ancol atau sekadar menemani bermain ping pong. “Jam 4 pagi pintu saya sudah digedor. Ha ha, ” paparnya lagi.


Ada lagi satu tanda yang membekas di ingatan. Sejenis ketika, mendiang ayah hendak kabur ke Bandung bersama ibu, Lidia Herawaty Rusli meninjau Bank Universal Indonesia (BII), Freddy ikut diajak.


Rupanya, Freddy, si anak muda saat itu sedang galau karena sedang tawar. Lantas, di Puncak, Bogor, di perjalanan menuju kota kembang tersebut, sang ayah memberikan saran-saran yang mengena. Diingatnya kata-kata itu.


“Gak boleh sejenis, sama wanita gak boleh gitu. Musti begini, musti begini, ” Fredy menuturkan saran sang abu.


Tidak cuma itu, Eka juga sangat menyayangi putri semata wayang Freddy, Frances Widjaja yang saat ini sedangkan menempuh studi doktroal di Belanda. Sebelumnya, putri Freddy mendapat dana siwa di Nanyang Technology (NTU), Singapura. Frances, jadi satu-satunya cucu yang namanya tercantum di akta pesan dan mendapat Rp 1 miliar.


“Itu beta terkesan sekali. Anak saya puji Tuhan dikasih talenta, pintar seluruhnya, dapat beasiswa di Nanyang Singapura, terus pokoknya prestasinya luar berpunya, makanya ayah saya sayang seluruhnya sama dia. Itu satu kebanggan orang tua, bisa sampai diinget sama engkongnya sampai begitu, ” ceritanya.

[Gambas:Video CNBC]
(sef/sef)