Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia berantakan Kantor-kantor di Jakarta mulai ditinggalkan penyewa, terutama kantor-kantor yang berada di kawasan Central Business District (CBD) Jakarta.   Para penyewa pindah kantor ke kawasan yang harganya lebih murah, atau di luar dari zona utama CBC.

Iklim pandemi  ini juga mendorong penyewa yang memilih untuk memperkecil merata penyewaan kantor karena sebagian pekerja diarahkan untuk bekerja dari vila (WFH).

“Adanya pembatasan-pembatasan, banyak yang saya tahu tersebut dari grade A di CBD, mulai pada pindah, okupansinya berkuranglah. Juga aturan nggak boleh full zaman ini. Bisnis (penyewa) yang makin susah, ” kata Ketua Realestate Indonesia (REI) DKI Jakarta Arvin F Iskandar kepada CNBC Indonesia , Rabu (30/9).


Adanya pengetatan PSBB  di DKI  Jakarta mengharuskan perkantoran mengikuti protokol ketat, di antaranya batas maksimal 50% kapasitas ruangan untuk 11 sektor usaha dengan diutamakan, dan kapasitas maksimal 25% untuk di luar sektor itu. Aturan tersebut sangat berpengaruh bagi industri sewa perkantoran.

“Sangat, sangat. Orang lebih penuh efektivitas ke WFH otomatis. Saya lihat banyak startup-startup company yang tadinya di CBD mulai tidak menyimpan office di CBD juga. Karena sekarang bisnis nggak maksimal. Nggak bisa terima tamu, kan orang dalam CBD area office -nya karena mengharapkan mampu bisnis di sana, ada kesibukan di situ. Sekarang nggak bisa, lebih baik cari yang lebih murah, ” sebut Arvin.

Meski para penyewa banyak yang pindah ke daerah ‘pinggiran’, namun pengelola kantor tetap mendaftarkan aturan yang ada, yakni diatur dalam Peraturan Gubernur (Pergub) Bagian 88 tahun 2020 yang dikeluarkan sejak Minggu (13/9/2020).

Dalam aturan baru ini, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengisbatkan kapasitas kantor di  DKI baik swasta maupun pemerintah hanya bisa beroperasi 25%. Bila ada kejadian corona (Covid-19) yang ditemukan oleh karena itu kantor akan ditutup tiga hari.

Apa yang disampaikan Alvin, setidaknya tercermin dari laporan  Cushman and Wakefield Indonesia. Di dalam kuartal II-2020 misalnya, okupansi dengan keseluruhan perkantoran di CBD  Jakarta turun menjadi hanya 74, 2%, sedangkan perkantoran grade turun memutar tajam sampai 5, 3% ke posisi 70, 7%.

[Gambas:Video CNBC]
(hoi/hoi)