Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Pengaruh Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan 74 perusahaan kakap cenderung mengurangi biji baki debet  di perbankan secara nilai penurunan mencapai Rp 61, 2 triliun. Penurunan ini sependirian dengan menurunya pertumbuhan kredit di waktu tiga bulan terakhir.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan pertumbuhan rekognisi per bulannya sejak Juni had Agustus terus mengalami penurunan secara year on year YoY), yang mana Juni kredit tumbuh 1, 4% YoY, lalu Juli tumbuh 1, 53% tapi pada Agustus bahkan turun menjadi 1, 04% YoY.

Baki debet adalah  saldo pokok dari plafon pinjaman yang telah disepakati dalam konvensi kredit dan biasanya akan redup jika angsuran rutin dilakukan ataupun sesuai jadwal pembayaran oleh debitur.


Penurunan nilai kredit ini terutama berlaku pada kredit korporasi yang dengan tahunan  mengalami kenaikan RP 39, 8 triliun atau 1, 86% namun secara year to date (ytd) malah turun Rp 53, 8 triliun atau 2, 41%.

“Di segmen korporasi, kami mencatat terdapat 74 debitur besar dari kelompok 100 debitur besar di bulan Agustus menemui penurunan baki debet total Rp 61, 2T dengan rata-rata turun sebesar 12, 9%, dimana yang terbesar adalah PLN Rp tujuh, 2 triliun, Gudang Garam Rp 5, 3 triliun, Wilmar Nabati Rp 4, 9 triliun, Petrokimia Gresik Rp 4, 9 triliun dan Indofood Sukses Makmur Rp 4, 4 triliun, ” sekapur Wimboh dalam rapat dengan Bayaran XI DPR RI, Kamis (1/10/2020).

Lemahnya permintaan pengaruh ini berdampak pada membaiknya likuiditas perbankan dengan kondisi loan to deposite ratio (LDR) perbankan had Agustus 2020 lalu berada di dalam posisi 85, 11% dimana pada akhir Desember 2019 masih tersedia di level 94, 43% dan pada Juli 2020 pada golongan 87, 76%.

Dari sisi dana bagian ketiga, terjadi pertumbuhan 11, 64% YoY. Jumlah ini terus menikmati pertumbuhan dari posisi Juli 2020 yang masih tumbuh 8, 53% YoY dan pada posisi Desember 2019 pada 6, 54% YoY.

Sementara itu, kedudukan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) selama enam bulan terakhir selalu terus mengalami peningkatan dimana di dalam posisi Desember 2019 lalu poin NPL berada pada posisi dua, 53%.

Sedangkan semenjak Maret sampai Agustus 2020 NPL secara gradually meningkat dari 2, 77%, 2, 89%, 3, 01%, 3, 11% dan 3, 22% hingga pada Agustus lalu poin NPL berhasil stagnan pada kondisi 3, 22%.

[Gambas:Video CNBC]
(hps/hps)