Posted on

Jakarta, CNBC Indonesia – Exxon Mobil Corporation, perusahaan minyak dan udara asal Amerika Serikat, baru sekadar mengumumkan bakal memangkas 14. 000 karyawan secara global atau kira-kira 15% dari total karyawan.

Langkah yang diambil tersebut merupakan bagian dari pemotongan ongkos global karena dampak dari pandemi Covid-19 yang melemahkan permintaan patra global dan membuat anjlok kehormatan minyak mentah dunia.

Exxon Mobil memiliki wilayah kerja operasi di segala penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia. Bahkan, di Indonesia Exxon Mobil merupakan produsen minyak no. 1 dari Provinsi Kerja (Blok) Cepu di Jawa Timur, membalap rivalnya Chevron yang mengoperasikan Blok Rokan, Riau.


Lalu, bagaimana nasib Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu pada Jawa Timur yang dioperasikan Exxon Mobil Cepu Ltd setelah adanya pengumuman pemangkasan karyawan?

Deputi Operasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Patra dan Gas Bumi (SKK Migas) Julius Wiratno mengatakan meski terjadi pemangkasan karyawan di kantor pusatnya, dia melihat hal itu tak akan berdampak kepada operasi Exxon yang ada di Indonesia.

“Di Indonesia kelihatannya tidak terdampak, ” kata Julius kepada CNBC Indonesia, Jumat (30/10/2020).

Berdasarkan keterangan SKK Migas, Exxon Mobil Cepu Ltd mencatatkan lifting minyak rata-rata sebesar 215. 202 barel per hari (bph) selama Januari-September 2020 atau 97, 8% dari target tahun ini 220. 000 bph. Angka produksi ini menjadikan Exxon sebagai produsen minyak no. 1 di Indonesia. Sementara Chevron Pacific Indonesia mencatatkan lifting 176. 298 bph dari Blok Rokan, ke-2 setelah Exxon.

Tidak puas hanya sampai di situ, produksi minyak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu ini pun langsung didorong semakin naik dengan tumpuan bisa mencapai 235. 000 bph. Namun demikian, menurut Julius sampai saat ini produksinya baru menyentuh sekitar 229. 000 bph.

Untuk mencapai produksi 235. 000 bph menurutnya masih butuh waktu lama. Julius menyebut penerapan minyak dari Blok Cepu itu kemungkinan baru bisa didorong datang posisi 230. 000 bph.

“Saat ini produksinya kira-kira 229. 000 bph. Untuk penerapan 235. 000 bph, belum kelihatan, mungkin maksimal sekitar 230. 000-an bph saja. Semua tergantung kedudukan operasional dan yang paling penting adalah safety (keamanan), ” tutur Julius.

Saat mencoba mengonfirmasikan hal ini kepada Exxon Mobil Indonesia, sayangnya perusahaan tidak mampu memberikan komentar lebih lanjut terpaut dampak dari PHK karyawan dengan global yang baru saja diumumkan kantor pusat Exxon di GANDAR.

Sebelumnya, Vice President Public and Government Affairs Exxon Mobil Indonesia Azi N. Kawasan mengatakan Exxon Mobil Indonesia langsung melakukan koordinasi dengan SKK Migas dan mengupayakan yang terbaik menetapkan mendorong produksi.

“Kami terus berkoordinasi dengan SKK Migas demi upaya terbaik guna memajukan produksi Blok Cepu lebih sebab 220. 000 bph dengan mengutamakan aspek keselamatan dan keandalan proses selama masa pandemi Covid-19, ” paparnya kepada CNBC Indonesia mencuaikan pesan singkat, Jumat, (04/09/2020).

Dalam pengumuman Exxon Mobil soal pemangkasan pegawai yang dikutip pada Jumat (30/10/2020) dari AFP, raksasa minyak AS itu mengatakan karyawan akan diminta mengajukan diri secara sukarela serta pemutusan hubungan kerja (PHK) paksa. Perusahaan menegaskan ini hasil reorganisasi yang sedang dilakukan.

Exxon Mobil telah menyatakan mau memangkas 14. 000 posisi pada perusahaan yang akan dilakukan semasa dua tahun hingga 2022. Masa ini, perusahaan memiliki sekitar 88. 000 pekerja pada akhir 2019, termasuk 75. 000 karyawan pasti dan sekitar 13. 300 pelaku kontrak.

Tekanan sejak pandemi Covid-19 pada tahun ini juga membuat posisi Exxon Mobil tidak lagi menjadi perusahaan gaya nomor wahid di AS. Kini, posisi tersebut diduduki oleh NextEra Energy Inc, produsen energi surya dan angin terbesar dunia, berdasarkan nilai kapitalisasi pasar ( market capitalization ).

Tidak hanya digeser oleh perusahaan energi berbasis energi baru terbarukan (EBT), posisi Exxon Mobil kini juga berada di bawah rivalnya yakni Chevron Corporation, laksana dikutip dari Reuters, Jumat (30/10/2020).

Tekanan pada industri minyak dan gas bumi di tahun ini, dimulai dari turunnya permintaan minyak global hingga anjloknya harga minyak dunia akibat pandemi Covid-19 mengakibatkan perusahaan ini selama tiga kuartal berturut-turut mencatatkan kecelakaan.

Dikutip dari Reuters pada Jumat (30/10/2020), nilai saham Exxon telah anjlok lebih sebab setengah nilainya pada tahun tersebut ke level terendah selama dua dekade. Saham perusahaan telah dihapus dari Dow Jones Industrial Average setelah hampir satu abad kedudukan, dan kini harus menghadapi pertanyaan apakah perusahaan dapat mempertahankan dividennya.

[Gambas:Video CNBC]
(wia)